This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label SKI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SKI. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 November 2022

Ilmuwan Muslim pada Masa Dinasti Ayyubiyah dan Bidangnya

 Ilmuwan Muslim pada Masa Dinasti Ayyubiyah dan Bidangnya Kompas.com - 25/02/2022, 16:00 WIB BAGIKAN: Komentar Lihat Foto Fransiskus dari Assisi di hadapan Sultan Al-Kamil dari Dinasti Ayyubiyah.(New World Encyclopedia) Penulis Lukman Hadi Subroto | Editor Widya Lestari Ningsih KOMPAS.com - Daulah Ayyubiyah adalah dinasti Muslim Sunni keturunan etnis Kurdi yang pernah berkuasa selama sekitar satu abad, antara 1174-1250. Pada masa jayanya, dinasti yang berpusat di Mesir ini pernah menguasai hampir seluruh wilayah Timur Tengah. Dinasti Ayyubiyah, yang berdiri menggantikan Dinasti Fatimiyah, juga mencapai kemajuan di berbagai bidang, salah satunya di bidang ilmu pengetahuan. Salah satu buktinya, lahirnya ilmuwan-ilmuwan Muslim terkemuka yang mahir dalam bidangnya. Peran ilmuwan Muslim dalam membawa kegemilangan Dinasti Ayyubiyah pun sangat besar. Berikut ini ilmuwan-ilmuwan Muslim masa Daulah Ayyubiyah dan karyanya. Baca juga: Dinasti Ayyubiyah: Sejarah, Masa Kejayaan, Raja-raja, dan Keruntuhan As-Suhrawardi al-Maqtul As-Suhrawardi al-Maqtul adalah tokoh ahli filsafat pada masa Dinasti Ayyubiyah yang lahir di Persia barat laut pada 1154. Ia penah belajar filsafat dan teologi kepada Majd Al-Din Al-Jili di Maraghah dan Fakhr Al-Din Al-Mardini di Isfahan. As-Suhrawardi al-Maqtul menjadi filsuf terkenal pada masa Dinasti Ayyubiyah melalui karya-karyanya, seperti Al-Talwihat, Hikmah, Al-Isyraq, Al-Muqawamat, dan Al-Masyari wa Al-Mutarahat. Selama hidup, ia pernah menjadi guru dari anak Sultan Salahuddin Al-Ayyubi, tetapi berakhir dibunuh karena dianggap menyesatkan.


Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Ilmuwan Muslim pada Masa Dinasti Ayyubiyah dan Bidangnya", Klik untuk baca: https://www.kompas.com/stori/read/2022/02/25/160000779/ilmuwan-muslim-pada-masa-dinasti-ayyubiyah-dan-bidangnya.
Penulis : Lukman Hadi Subroto
Editor : Widya Lestari Ningsih

Download aplikasi Kompas.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat:
Android: https://bit.ly/3g85pkA
iOS: https://apple.co/3hXWJ0L

Pengertian Khulafaur Rasyidin dan Kisah Teladannya

 Pengertian Khulafaur Rasyidin dan Kisah Teladannya

  




URL telah disalin

Pengertian Khulafaur Rasyidin dan Kisah Teladannya (Ilustrasi: Zaki A/detikcom)
Jakarta - Setelah Nabi Muhammad SAW wafat pada tahun 632 Masehi atau tahun 11 H, terdapat empat sahabat Rasulullah SAW yang kemudian dikenal dengan sebutan Khulafaur Rasyidin. Siapa saja khulafaur rasyidin tersebut?
Mengutip dari laman resmi Sekolah Tinggi Teknologi Bandung, pengertian khulafaur rasyidin (الخلفاء الراشدون) atau khalifah ar-rasyidin adalah empat orang khalifah yang dipercaya oleh umat Islam sebagai penerus kepemimpinan Nabi Muhammad setelah beliau wafat.

Khulafaur Rasyidin ini dapat diartikan secara harfiah sebagai para pemimpin yang mendapatkan petunjuk. Empat sahabat Rasul yang termasuk dalam khulafaur rasyidin adalah Abu Bakar Ash-Shidiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.


Penjelasan tentang khulafaur rasyidin ini juga dapat ditemukan dalam firman Allah QS. At Taubah ayat 100:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Artinya: "Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung." (QS. At Taubah: 100).

Baca juga:
Saat Khalifah Umar bin Khattab Berdebat soal Wabah Penyakit dan Takdir
Keempat sahabat Rasulullah tersebut termasuk orang-orang yang mengakui kerasulan Nabi Muhammad SAW sejak awal. Keempat khalifah tersebut juga dipilih berdasarkan konsensus bersama umat Islam.

Masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin merupakan masa yang penting dalam perjalanan Islam. Menurut buku Sejarah Hukum Islam karya Dr. Fauzi, S.Ag., M.A., periode ini dianggap sebagai periode pertama pembentukkan fiqih Islam.

Selain itu, setelah hukum-hukum syariat sempurna pada masa Rasulullah SAW, lalu pindah ke zaman para sahabat di mana mereka harus memikul tanggung jawab mencari sumber-sumber syariat. Hal ini diperlukan agar mereka dapat menjawab perkembangan zaman yang tidak ada dalam Al Quran dan sunnah.

Keempat khulafaur rasyidin ini berhasil memperluas syiar agama Islam hingga ke luar jazirah Arab, menyelamatkan Islam, serta meletakkan dasar-dasar kehidupan agama Islam terhadap umatnya.

Nama-nama khulafaur rasyidin beserta gelar dan kisah singkatnya:

1. Abu Bakar Ash Shiddiq
Abu Bakar Ash-Shiddiq bernama lengkap Abdullah bin Utsman (Abu Qahafah) bin Amir bin Amru bin Ka'ab bin Sa'd bin Tamim bin Murrah bin Lu'ai bin Ghalib bin Fihr al-Tamimi al-Quraisyi dan lahir di Mekkah pada tahun 572 M.

Kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq RA berlangsung selama 2 tahun 3 bulan, seperti yang dikutip dari Buku Kisah Hidup Abu Bakar al-Shiddiq. Ia adalah seorang khalifah pertama dan menjadi satu-satunya yang disebut sahabat Rasulullah oleh Allah SWT dalam QS. At Taubah ayat 40.

Selain ucapan dan tingkah lakunya yang menggambarkan kejujuran, Abu Bakar juga selalu mengakui dan membenarkan Nabi Muhammad SAW saat diangkat menjadi nabi. Oleh karena itu, ia menyandang gelar yang sampai saat ini selalu mengikuti namanya, Ash-Shiddiq yang berarti jujur dan membenarkan.

2. Umar bin Khattab
Umar bin Khattab lahir di Mekkah pada 582 M dan menjadi khalifah pada tahun 634 M menggantikan Abu Bakar. Ia bernama lengkap Umar bin Khattab bin Ady bin Abd al-'Uzza bin Riyakh bin Abdullah bin Qorth bin Razakh bin Ka'ab bin Ady bin Luay bin Ghalib al-Qurasyi al-Adwi.

Rasulullah SAW memberinya julukan Al-Faruq (sang pembeda) atau berarti sebagai orang yang mampu membedakan antara yang haq (kebenaran) dan yang bathil (kesesatan). Selain itu, Umar juga menjadi orang pertama yang digelari dengan Amir al-Mu'minin (pemimpin orang beriman).

Dalam sebuah kisah yang ditulis oleh Mustafa Murrad, mantan istri Umar bin Khattab menceritakan tentang ibadah Umar yang tidak mengenal waktu.

Umar bin Khattab juga kerap kali terjaga di malam dan siang hari untuk beribadah dan juga berpuasa demi hajat rakyatnya, seperti yang dikisahkan oleh Mu'awiyah bin Khudayj, jenderal dari suku Kindah.

Baca juga:
Kisah Sahabat Nabi Abu Bakar Ash-Shiddiq, Sahabat yang Setia & Jaga Rahasia
3. Utsman bin Affan
Utsman bin Affan lahir pada enam tahun setelah Tahun Gajah, tepatnya 579 M di Thaif, daerah subur kawasan Hijaz, sebuah wilayah di sebelah barat laut Arab Saudi. Hal inilah yang membuat usianya 6 tahun lebih muda dibandingkan dengan Rasulullah SAW.

Dikutip dari buku Abdul Syukur Al-Azizi yang berjudul Utsman bin Affan Ra, Utsman bin Affan terlahir dari keluarga bangsawan yang kaya raya dan berpengaruh dari Suku Quraisy silsilah Bani Umaiyah.

Meskipun terlahir dari lingkungan yang kaya raya, Utsman rela untuk keluar dari segala kenikmatan dan kemewahan hidupnya demi memegang tanggung awab dakwah yang melelahkan, penuh risiko, menguras tenaga, dan pikiran.

Ia tidak segan untuk membagikan rezekinya secara cuma-cuma untuk kebutuhan berperang atau pun khalayak luas.

Dikisahkan dari Ibn Syihab Al-Zuhri, seorang ulama ahli hadits, mengatakan, "Utsman mempersiapkan Jaisyul Usrah (pasukan sulit) saat Perang Tabuk dengan 940 ekor unta dan 60 ekor kuda, sehingga sempurna berjumlah 1.000."

Salah seorang sahabat Rasulullah, Hudzaifah pun bercerita bahwa Utsman datang kepada Rasul sambil membawa 10.000 dinar (kira-kira Rp 483 juta) yang diserahkan dengan kedua tangannya.

4. Ali bin Abi Thalib
Ali bin Abi Thaib bin Abdul Muththalib bin Hasyim lahir di Mekkah pada tanggal 13 Rajab. Ali lahir pada tahun ke-32 dari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Ada juga yang menyebutkan jika Ali dilahirkan pada 21 tahun sebelum hijriah.

Semasa kecil, Rasulullah SAW telah mengasuh, mendidik, dan mengajari Ali bin Abi Thalib. Kasih sayang dan kemuliaan Rasulullah SAW inilah yang membentuk karakter Ali saat dewasa.

Melansir dari buku Kisah Hidup Ali Ibn Abi Thalib karya Mustafa Murrad, Ali bin Abi Thalib dikenal sebagai pemimpin yang dekat dengan rakyatnya. Ia pun suka berkeliling sekadar untuk menantikan siapa pun yang menghampirinya guna meminta bantuan atau bertanya padanya.

Baca artikel detikedu, "Pengertian Khulafaur Rasyidin dan Kisah Teladannya" selengkapnya https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5594179/pengertian-khulafaur-rasyidin-dan-kisah-teladannya.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/

Kesuksesan Nabi Muhammad saw Melakukan Perubahan

 BAB II Kesuksesan Nabi Muhammad saw Melakukan Perubahan

Kota Madinah sebelum datangnya Islam bernama Yatsrib. Setelah Nabi Muhammad hijrah ke Yasrib, Yasrib birubah menjadi Madinah. Madinah dikenal dengan  Madinatun Nabi  (Masjid Nabi) atau al-Madinah al-Munawwarah  (Kota yang Bercahaya) keadaan kota ini terletak di lembah yang subur yang berada pada jarak kurang 300 km sebelah utara kota mekah. 

A. Kepercayaan Masyarakat Madinah Sebelum Islam

Sebelum kedatangan Nabi Muhammad saw, kota Madinah dikenal dengan nama Yatsrib. Penduduk kota Yatsrib terdiri dari etnis Arab, baik dari Arab Selatan maupun Utara, juga ada yang berasal dari etnis Yahudi. Penduduknya telah memiliki kepercayaan dan agama. Agama yang dianut penduduk Yatrib adalah Yahudi, Nasrani, dan Pagan. Mayoritas penduduknya memeluk agama Yahudi. Agama Yahudi masuk ke Yatsrib berbarengan dengan kedatangan imigran dari wilayah utara sekitar abad ke-1 dan ke-2. Mereka datang ke Mereka datang ke Yatsrib untuk menyelamatkan diri dari penjajahan Romawi. Mereka mendapatkan penindasan dari Romawi karena melakuakan pemberontakan. Migrasi terbesar bangsa Yahudi terjadi pada tahun132-135. Agama Yahudi dianut oleh beberapa suku-suku, antara lain Bani Qainuqa, Bani Nadhir, Bani Gathafan, Bani Quraidlah. Keempat suku ini tetap memeluk agama Yahudi walaupun Islam telah tersebar di Madinah. Kebanyakan mereka bekerjasama dengan kafir Quraisy  untuk mengusir dan membunuh nabi Muhammad saw. Akibat menentang Islam, Nabi Muhammad mengusir mereka dari kota Madinah. Sehingga madinah bersih dari bangsa yahudi.

Selain Yahudi,  penduduk Yatsrib memeluk agama Nasrani. Kelompok yang merupakan kelompok minoritas berasal dari Bani Najran. Mereka mememeluk agama nasrani pada tahun 343 M ketika Kaisar Romawi mengirim misionaris ke wilayah mereka untuk menyebarkan agama Nasrani.
Sebagian kecil Penduduk Yasrib ada yang tidak memeluk agama yahudi dan nasrani. Mereka mengikuti kenyakinan orang Quraisy dan Penduduk Mekkah. Mereka memandang kaum Quraisy sebagai penjaga Rumah Allah, sebagai pemimpin-pemimpin Agama, serta sebagai panutan dalam beribadah. Agama mereka dikenal dengan paganisme yaitu kepercayaan kepada benda-benda, dan kekuatan-kekuatan alam, seperti matahari, bintang-bintang, bulan, dan sebagainya. Mereka menyembah kekuatan-kekuatan alam. Mereka hidup sesuai dengan tradisi warisan nenek moyang.  Praktik peribadatan mereka bertentangan dengan agama Yahudi dan Nasrani. Karena itu, sering terjadi perselisihan dan keributan antara mereka dengan pemeluk agama Yahudi. 

B. Kondisi Sosial Masyarakat Madinah Sebelum Islam

Keadaan sosial masyarakat Yatsrib sebelum kedatangan Nabi Muhammad Saw. memiliki beberapa kemiripan dengan keadaan di Makkah. Suku-suku dan kelompok masyarakat yang tinggal di sana berperang satu sama lain. Yasrib memiliki dua kebudayaan yaitu kebudayaan Arab dan Yahudi. Kedua kebudayaan tersebut jelas memiliki tradisi yang berbeda. Sekalipun terdapat orang-orang Arab yang memeluk Yahudi dan terjadi hubungan perkawinan diantara mereka, tapi sikap dan pola hidup bangsa Yahudi dan Arab  berbeda..
Pada awalnya,  kedua bangsa tersebut berasal dari satu rumpun bangsa, yaitu ras Semit yang berpangkal dari Nabi Ibrahim melalui dua putranya, Ismail dan Ishaq. Bangsa Arab melaui Ismail dan Yahudi melaui Ishaq. Meraka berkembang dan menyebar sehingga memiliki kebudayaan tersendiri. Disamping itu, kedua bangsa berkebang menjadi  beberapa suku atau kabilah. 
Adapun kabilah-kabilah yang berada di Yasrib (Madinah) antara lain:

1. Kabilah Aus dan Kharzaj

Nama “Aus” dan “Kharzaj” berasal dari nama dua orang laki-laki kakak beradik. Mereka berasal dari salah satu kabilah di Arab Selatan. Suku Aus dan Khazraj berasal dari salah satu suku besar di Yaman, yaitu Azd . Keturunannya terpecah menjadi dua kelompok yang saling bermusuhan dan berperang. Perang saudara berlangsung lebih dari 120 tahun. Kedua kelompok memiliki daerah kekuasaan sendiri di kota Madinah. 
Kabilah Aus menempati wilayah dataran tinggi di selatan dan timur. Kabilah Khazraj tinggal menempati wilayah taran rendah di tenggah utara Madinah. Di belakang mereka tidak ada apapun kecuali kesunyian Hirrah Wabrah.
Kabilah Aus mendiami wilayah-wilayah pertanian yang kaya di Madinah. Mereka bertetangga dengan Kabilah-kabilah Yahudi. Sedangkan kabilah Khazraj mendiami wilayah-wilayah yang kurang subur, dan bertetangga dengan kabilah Yahudi yang besar yakni Qainuqa.
Pada tahun ke-10 dari kenabian Muhammad SAW terjadi perang saudara yang sangat hebat. Banyak pemimpin dari kedua kabilah  tersebut tewas di medan perang. Pada waktu itu, kabilah Khazraj memperoleh kemenangan karena memiliki pasukan lebih banyak dari Kabilah Aus dan mendapat bantuan senjata dari bangsa Yahudi Bani Nadhir dan Baini Qainuqa. Walaupu Kabilah Aus mendapat bantuan juga dari Yahudi Bani Quraizhah.
Karena mendapat kekalahan, Kabilah Aus mengirim dua utusan ke Mekkah yaitu Iyas bin Mu’adz dan Anas bin Rafi. Adapun tujuannya untuk  meminta bantuan kaum Quraisy. 
Ketika sampai di Mekkah, keduanya bertemu denga nabi Muhammad saw. Nabi bercakap-cakap dengan keduanya dan membacakan ayat-ayat Al Quran. Ketika itu Iyas bin Mua’az tertarik dengan ajakan Nabi untuk masuk Islam. Tapi dia diingatkan oleh Anas bin Rafi tentang tujuan datang ke Mekkah. Mereka ketemu dengan pembesar Quraisy dan menyampaikan tujuannya. Tapi permintaannya ditolak oleh kaum Quraisy karena mereka sedang sibuk mencegah tersebarnya Ajaran Nabi Muhammad. Akhirnya keduanya kembali ke Madinah dengan tangan hampa.
Ketika keduanya sampai di Madinah, terjadi perang saudara kembali. Kali ini Kabilah Aus memperoleh kemenangan. Menurut sejarah, peperangan tersebut merupakan peperangan terakhir antara kedua kabilah. Karena sudah banyak pemimpin dari kedua kabilah tersebut masuk Islam.

2. Kabilah Yahudi

Di Madinah, Bangsa Yahudi terdiri dari 3 kabilah besa yaitu, Qainuqa, nadhir, dan Quraizhah. Jumlah laki-lakinya yang sudah baligh mencapai lebih dari dua ribu orang. laki-laki di kabilah Qainuqa’ yang biasa berperang mencapai tujuh ratus orang. Bani Nadhir mencapai tujuh ratusan orang yang terbiasa perang. Sedangkan laki-laki dari Bani Quraizhah antara tujuh ratus hingga sembilan ratus orang.
Hubungan ketiga kabilah tersebut tidak harmonis. Terkadang  ketiganya terjadi perang saudara. Al-Qur’an menunjukkan bahwa permusuhan antara kaum Yahudi dengan Firman-Nya :

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ لاَ تَسْفِكُونَ دِمَائَكُمْ وَلاَ تَخْرِجُونَ أَنفُسَكُم مِّن دِيَارَكُمْ ثُمَّ أَقْرَرْتُمْ وَأَنتُمْ تَشْهَدُونَ {84} ثُمَّ أَنتُمْ هَآؤُلآءِ تَقْتُلُونَ أَنفُسَكُمْ وَتُخْرِجُونَ فَرِيقًا مِّنكُم مِّن دِيَارِهِمْ تَظَاهَرُونَ عَلَيْهِم بِاْلإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَإِن يَأْتُوكُمْ أُسَارَى تُفَادُوهُمْ وَهُوَ مُحَرَّمٌ عَلَيْكُمْ إِخْرَاجُهُمْ أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَاجَزَآءُ مَن يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنكُمْ إِلاَّ خِزْيُُفيِ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلىَ أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ {85}

Artinya: “Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu (yaitu) kamu tidak akan menumpahkan darahmu (membunuh orang), dan kamu tidak akan mengusir dirimu {Saudaramu sebangsa) dari kampung halamanmu, kemudian kamu berikrar (akan memnuhinya) sedang kamu mempersaksikan. Kemudian kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir sengolongan daripada kamu dari kampong halamannya, kamu Bantu-membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan; tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal mengusir mereka itu (juga) terlarang bagimu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 84-85).
Bani Nadhir menetap di Aliyah, di lembah Baththan sejauh 2 atau 3 mil dari Madinah. Daerah tersebut banyak pohon kurma dan tanaman-tanaman lainnya. Bani Quraizhah mendiami wilayah Mazhur yang terletak beberapa mil di selatan Madinah. Sedangkan bani Qainuqa tinggal di dalam kota Madinah. Mereka pindah setelah diusir oleh Bani Nadhir dan Bani Quraizhah, dari tempat mereka yang berada diluar Madinah. Bangsa Yahudi memiliki midras, yaitu tempat mereka mempelajari agama Yahudi dan sejarah rosul-rosul mereka.  Mereka melahirkan ahli ilmu, ahli agama dan ahli hukum. 
Bangsa Yahudi dan Bangsa Arab merupakan bangsa pendatang di Yasrib. Bangsa yahudi datang ke Yasrib karena situasi politik akibat penjajahan Romawi. Mereka menghidari Bangsa Romawu yang ingin membunuh dan menghancurkan mereka. Karena bangsa Yahudi dianggap sebagai pemberontak. Mereka kebanyakan berasal dari wilayah utara, datang ke Yasrib diperkirakan pada abad ke-1 dan ke-2. Sedangkan bangsa Arab datang ke Madinah karena bencana alam akibat hancurnya bendungan Ma’arib yang dibangun pada masa kerajaan Saba’. Mereka datang ke Madinah diperkirakan terjadi pada tahun 300 M.
Pada awalnya bangsa Yahudi dan Arab dapat hidup berdampingan saling menghormati. Pada perkembangan selanjutnya, bangsa Arab melebihi jumlah penduduk bangsa Yahudi yang sudah datang duluan di Yasrib, terutama setelah Arab Yaman pindah secara masal  di akhir abad ke-4 M.   Mulai saat itu muncul kecurigaan dan saling mengancam diantara keduanya. Ketegangan ini berawal dari sikap bangsa Yahudi yang menyombongkan diri sebagai manusia pilihan Tuhan karena dari suku mereka banyak diutus para nabi dan rasul. Selain itu mereka adalah penganut agama tauhid, sementara masyarakat arab adalah penyembah berhala.
Apabila timbul konflik, orang Yahudi selalu berkata dengan nada ancaman bahwa semakin dekat waktu kedatangan Nabi yang diutus untuk memimpin mereka membunuh bangsa Arab. Pada waktu itu Jika ditanya tentang kedatangan Nabi, Para pendeta Yahudi selalu menunjuk ke arah Yaman. Bagi Orang Yasrib, isyarat itu bukan ke Yaman tapi kota Mekkah. Ketika mendengar berita seseorang yang mengaku Nabi di Mekkah, mereka berusaha mencari informasi tersebut. Setiap musim haji tiba, mereka mengutus ke Mekkah untuk menyelidiki kebenaran berita tersebut. Hasilnya terjadi dua perjanjian yaitu ‘Aqabah I dan Aqabah II. 

C. Kondisi Ekonomi Masyarakat Madinah Sebelum Islam

Secara geografis Yatsrib merupakan kota ketiga yang termasuk pada kawasan tandus yang populer dengan sebutan Hijaz setelah Thaif dan Makkah.  Yatsrib berada di tempat strategis sebagai jalur penghubung perdagangan antara kota Yaman di Selatan dan Syiria di Utara. Yastrib termasuk daerah subur di sekitar kawan tandus. 
Yasrib berbeda dengan Kota Mekkah di kondisi alam dan watak penduduknya. Yastrib merupakan kota yang makmur dan subur dengan pertaniannya. Air yang tersedia di kota ini mencukupi untuk membangun pertanian. Kota ini dikelilingi oleh gunung berbatu. Di terdapat banyak lembah, atau yang paling terkenal dikenal dengan nana Wadi. Sebagai pusat pertanian,  kota Yasrib menjadi menarik bagi penduduk wilayah lain untuk pindah ke Yatsrib.
Kota Yatsrib (Madinah) terdapat daerah persawahan dan perkebunan yang menjadi sandaran hidup penduduk setempat. Penghasilan terbesarnya adalah kurma dan anggur. Kurma merupakan hasil alam yang memberikan manfaat banyak bagi kehidupan mereka, diantaranya sebagai makanan, alat bangunan, pabrik, makanan hewan, bahkan seperti mata uang yang digunakan untuk tukar menukar ketika terdesak. Kurma Madinah juga banyak macamnya.
Di kota Yasrib (Madinah) terdapat beberapa pabrik yang sebagian besar dikelola oleh orang- orang yahudi. Bani Qainuqa’ adalah kabilah yahudi terkaya di Madinah, meski jumlah mereka tidak banyak. Di Madinah terdapat banyak pasar, yang terkenal pasar bani Qainuqa’, disana juga terdapat toko minyak wangi. Dan macam- macam jual beli lainnya, yang sesuai dengan ajaran Islam maupun tidak.

Jumat, 25 November 2022

Kekholifahan Bani Umayyah

 Kekhalifahan Bani Umayyah:

 Masa Keemasan dan Akhir Kekuasaan Kompas.com - 20/04/2021, 14:08 WIB BAGIKAN: Komentar Lihat Foto Masjid Agung Damaskus atau Masjid Umayyah yang berdiri di Kota Tua Damaskus, Suriah.(Encyclopædia Britannica) Penulis Widya Lestari Ningsih | Editor Nibras Nada Nailufar KOMPAS.com - Kekhalifahan Bani Umayyah adalah kekhalifahan kedua yang didirikan setelah kematian Nabi Muhammad. Daulah Bani Umayah berdiri setelah wafatnya khalifah Ali bin Abi Thalib, pemimpin terakhir Kekhalifahan Rasyidin. Pendiri Bani Umayyah adalah Muawiyah bin Abu Sufyan atau Muawiyah I, Gubernur Syam pada masa pemerintahan Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan. Saat didirikan pada 661 masehi, khalifah pertama Bani Umayyah adalah Muawiyah I. Setelah kematian Muawiyah I pada 680, konflik perebutan kekuasaan mengakibatkan perang saudara. Kekuasaan akhirnya jatuh ke tangan Marwan I, dari marga yang lain. Wilayah Suriah tetap menjadi basis kekuatan utama Bani Umayyah setelah itu, dan Damaskus adalah ibu kotanya. Pemerintahan Bani Umayyah berlangsung selama 365 tahun, yang terbagi atas dua periode, yaitu pemerintahan di Damaskus selama 90 tahun dan pemerintahan di Cordoba (Spanyol) selama 275 tahun. Baca juga: Kekhalifahan Abbasiyah: Sejarah, Masa Keemasan, dan Akhir Kekuasaan Sejarah Pada masa pemerintahan Ali Bin Abi Thalib dari Kekhalifahan Rasyidin, terjadilah perang saudara antara Ali dengan Muawiyah I di Shiffin. Perang Shiffin ini diakhiri dengan tahkim atau penyelesaian perkara, yang ternyata tidak menyelesaikan masalah bahkan menimbulkan perpecahan menjadi tiga golongan politik, yaitu Muawiyah, Syiah dan Khawarij. Setelah Ali terbunuh, kepemimpinan sempat dilanjutkan oleh putranya, Hasan. Namun, setelah beberapa bulan, Hasan mundur dari posisinya demi mendamaikan kaum muslim yang kala itu sedang dilanda beragam fitnah. Dengan demikian, dimulailah kekuasaan Bani Umayyah. Oleh karenanya, sering disebut bahwa Daulat Bani Umayyah itu didirikan dengan kekerasan dan tipu daya. Bani Umayah juga mengubah pemerintahan yang awalnya demokratis menjadi monarki (sistem pemerintahan berbentuk kerajaan). Baca juga: Masjid-masjid Peninggalan Kerajaan Islam dan Ciri-cirinya Masa keemasan Kekhalifahan Bani Umayyah Setelah resmi menjadi khalifah Bani Umayyah, Muawiyah memindahkan ibu kota pemerintahan dari Madinah ke Damaskus. Muawiyah kemudian memfokuskan diri pada perluasan wilayah, hingga akhirnya berhasil menaklukkan seluruh kerajaan Persia, sebagian Kerajaan Bizantium di Afrika, Khurasan, dan Afganistan. Bani Umayyah mencapai masa keemasan pada masa pemerintahan Khalifah Al-Walid I atau Al-Walid bin Abdul Malik yang memimpin pada tahun 705-715 masehi. Pada masanya, pembangunan tidak hanya difokuskan pada perluasan wilayah, tetapi juga membangun jalan raya, pabrik, gedung, masjid, dan panti asuhan. Ilmu agama dan pengetahuan juga berkembang pesat, dan umat Islam hidup dengan aman, makmur, serta tentram. Pada masa pemerintahan khalifah setelahnya, ekspansi wilayah Bani Umayyah terus berlanjut. Tidak heran apabila Bani Umayyah memiliki daerah sangat luas, baik di barat maupun timur, yang meliputi Spanyol, Afrika Utara, Suriah, Palestina, Semenanjung Arabia, Irak, sebagian wilayah Asia, Persia, Afganistan, Pakistan, Turkmenistan, Uzbekistan, dan Kirgistan. Baca juga: Masuknya Islam ke Nusantara Lihat Foto Abu Al-Qasim Az-Zahrawi(Wikimedia Commons) Perkembangan ilmu pengetahuan pada masa Bani Umayyah Perkembangan ilmu pengetahuan pada masa Bani Umayyah tidak terlepas dari Al-Farabi. Al-Farabi adalah salah seorang ilmuwan muslim pada masa Bani Umayyah yang berhasil menuliskan karya-karyanya yang hingga saat ini masih digunakan rujukan oleh ilmuwan-ilmuwan dari zaman modern. Selain memelajari ilmu agama, para ilmuwan muslim dari masa Bani Umayyah juga belajar ilmu bahasa, kesenian, filsafat, geografi, sejarah, kimia, fisika, kedokteran, dan astronomi. Ilmu Agama Salah satu ilmu agama yang berkembang adalah ilmu hadis, yang ditandai dengan kodifikasi dan pembukuan hadis. Ilmu Bahasa Pemerintah Bani Umayyah menjadikan Bahasa Arab sebagai bahasa resmi dalam administrasi pemerintahan di berbagai wilayah. Hal ini kemudian mendorong lahirnya ahli bahasa, yaitu Sibawaihi, yang menghasilkan karya berjudul Al-Kitab yang menjadi pedoman ilmu tata Bahasa Arab hingga saat ini. Ilmu filsafat Filsafat Islam pertama kali muncul pada masa Daulah Umayyah, dimulai dengan penerjemahan filsafat Yunani ke dalam Bahasa Arab. Salah satu ilmuwan muslim dalam bidang filsafat yang sangat terkenal adalah Al-Farabi, yang menyetujui dan mengembangkan logika Aristoteles. Ilmu Kedokteran Ilmuwan dalam bidang kedokteran yang terkenal adalah Abu Al-Qasim Az-Zahrawi. Az-Zahrawi adalah dokter bedah terkemuka yang memberikan kontribusi besar bagi perkembangan ilmu kedokteran, khususnya ilmu bedah. Ia dikenal sebagai peletak dasar-dasar teknik ilmu bedah modern. Ilmu fisika Salah satu ahli fisika dari Bani Umayyah adalah Ibnu Bajjah, yang mengatakan bahwa selalu ada reaksi pada setiap aksi. Teori ini sangat berpengaruh pada fisikawan setelahnya, termasuk Newton dan Galileo. Baca juga: Faktor Kemunduran Peradaban Islam Khalifah-khalifah Bani Umayyah di Damaskus Jumlah khalifah Bani Umayyah di Damaskus ada 14, dengan urutan masa kepemimpinan sebagai berikut. Muawiyah I (661-680 M) Yazid I (680-683 M) Muawiyah II (683-684 M) Marwan I (684-685 M) Abdul-Malik (685-705 M) Al-Walid I (705-715 M) Sulaiman (715-717 M) Umar II (717-720 M) Yazid II (720-724 M) Hisyam (724-743 M) Al-Walid II (743-744 M) Yazid III (744 M) Ibrahim (744 M) Marwan II (744-750 M) Penyebab runtuhnya Bani Umayyah Saat kekuasaan Bani Umayyah berada di tangan Yazid II (720-724 M), masyarakat menyatakan konfrontasi karena merasa kehidupannya kurang diperhatikan. Kerusuhan pun terus berlanjut hingga masa pemerintahan Hisyam, bahkan muncul gerakan oposisi yang tidak berhasil dipadamkan. Setelah Hisyam wafat, khalifah-khalifah selanjutnya tidak hanya lemah, tetapi juga bermoral buruk. Pada akhirnya, kekuasaan Bani Umayyah di Damaskus runtuh pada bulan Januari 750 masehi, ketika Khalifah Marwan II dikalahkan oleh pasukan Abbasiyah di pertempuran Zab Hulu. Setelah kalah, Marwan II melarikan diri ke Mesir, dan akhirnya terbunuh pada bulan Agustus di tahun yang sama. Peristiwa itu menjadi tanda berakhirnya pemerintahan Bani Umayyah di Damaskus. Setelah pemerintahan Bani Umayyah di Damaskus runtuh, salah seorang keturunannya bernama Abdurrahman ad-Dakhil berhasil melarikan diri ke Afrika Utara dan menyeberang ke Andalusia (Spanyol). Abdurrahman kemudian mulai membangun kekuasaan Bani Umayyah di Andalusia dan memusatkan pemerintahannya di Cordoba. Kekuasaan Bani Umayyah di Cordoba berakhir pada 1031 masehi.


Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kekhalifahan Bani Umayyah: Masa Keemasan dan Akhir Kekuasaan", Klik untuk baca: https://www.kompas.com/stori/read/2021/04/20/140841179/kekhalifahan-bani-umayyah-masa-keemasan-dan-akhir-kekuasaan?page=all.
Penulis : Widya Lestari Ningsih
Editor : Nibras Nada Nailufar

Download aplikasi Kompas.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat:
Android: https://bit.ly/3g85pkA
iOS: https://apple.co/3hXWJ0L

Kamis, 24 November 2022

Pengembangan Pondok Pesantren Dalam Pengembangan Kultur Islam Nusantara

 PERAN PONDOK PESANTREN DALAM PENGEMBANGAN KULTUR ISLAM NUSANTARA



 Oleh : Sunarto Dosen PAI FTK IAIN Raden Intan Abstrac Islamic Shari'a in the life of the state provide clear guidance in addressing the infidels (non-Muslims) and be fair to them according to sharia scales so that the Muslims are also protected from bad influences them. Among the provisions of Islam on infidels are as follows Islam does not compel a heathen was to convert to Islam. Therefore, in the future reign of the first four caliphs of Islam, the unbelievers who live under his rule remains protected his blood, even though they still choose his religion other than Islam. As for the fight is not solely due to choose a religion other than Islam. They fought because of hostility and their opposition to Islam. In Islam there are four kinds of infidels, and each get a different treatment, namely: Kafir dhimmi, mu'ahad Kafir, Kafir musta'man, Kafir harbi. Islamic Studies (Islamic studies) is a discipline / study that puts Islam not only in the context of theological normative (doctrinal), but also puts Islam as part of the historical and actual phenomena (empirical). That means, Islam is not only understood or analyzed from a normative dimension but also a theological-historical and actual dimensions. For that, the study approach used likewise vary in accordance with Characteristics of Islam itself. Keywords: boarding school, culture and Islam Nusantara Al-Tadzkiyyah: Jurnal Pendidikan Islam, Volume 6, November 2015 P. ISSN: 20869118 35 A. Pendahuluan Perkembangan globalisasi abad mutakhir menghendaki adanya suatu sistem pendidikan yang komprehensif. Perkembangan masyarakat menghendaki adanya pembinaan Islam dilakukan secara seimbang antara tingkah nilai dan akhlak, pengetahuan, kecerdasan, keterampilan, kemampuan komunikasi, dan sikap terhadap lingkungan (culture), dengan kata lain antara Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Iman dan Takwa harus seimbang dimiliki oleh anak sekarang.(Nasir, 2005:1) Globalisasi budaya Islam merupakan lintas batas yang menerobos dinding geografis, kebangsaan, kebudayaan bahkan peradapan bangsa-bangsa sehingga budaya sebagai muatan globalisasi, tidak dapat dicegah lagi oleh Negara dan masyarakat dunia manapun tetapi tanpa meninggalkan kultur lokal. Globalisasi sendiri mempunyai dampak negatif antara lain (1) Dapat melunturkan identitas suatu bangsa, (2)kurang kesadaran atas wawasan nusantara, dan kurangnya eksis terhadap budaya etnik.(Gafar, 2009:23) Dampak negativ tersebut perlu diantisipasi secara aktif dan efektif karena dapat melahirkan ancaman terhadap culture lokal dan pendidikan lokal karena secara personal maupun institusional pendidikan sehingga tepat jika dampak tersebut disaring menggunakan konsep Islam Nusantara. B. Pembahasan 1. Pengertian Pondok Pesantren ,VWLODK ³3RQGRN¥ GL DPELO GDUL SHQJHUWLDQ EDKDVD DUDE \DLWX ³IXQGXT¥ \DQJ EHUDUWL hotel asrama. Istilah lain yaitu disebut rumah yang kurang baik, biasanya berdinding dan beratap rumbia dan sebagainya, dibuat berpetak-petak untuk tempat tinggal.(dhofier, 1985:23) Pondok pesantren merupakan suatu lembaga pendidikan keagamaan islam yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat. Pondok pesantren termasuk kedalam jalur pendidikan luar sekolah (non formal) yang di dalamnya terdapat seorang kyai atau pendidik para santri dengan sarana masjid atau gotak-gotakan yang digunakan sebagai tempat tinggal para santri. Pondok Pesantren adalah lembaga pendidikan islam dengan N\DL VHEDJDL WRNRK VHQWUDOQ\D GDQ PDVMLG VHEDJDL SXVDW OHPEDJD ,VWLODK ³SHVDQWUHQ¥ Al-Tadzkiyyah: Jurnal Pendidikan Islam, Volume 6, November 2015 P. ISSN: 20869118 36 GLVHEXW MXJD VHEDJDL ³VXUDX¥ GL PLQDQJ NDEDX ³SHVDQWUHQ¥ GL 0DGXUD ³SRQGRN¥ GL -DZD%DUDWGDQ³5DQJNHQJ¥GL$FHK(Raharjo, 1974:82) ,VWLODK SHQJHUWLDQ ³ SHVDQWUHQ¥ GLDQJNDW GDUL NDWD ³VDQWUL¥ \DQJ PHPSHUROHK DZDODQ ³SH¥ GDQ DNKLUDQ ³DQ¥ \DQJ EHUDUWL WHPSDW WLQJJDO SDUD VDQWUL pengertian Pondok Pesantren dimaksud adalah suatu lembaga pendidikan islam yang didalamnya terdapat seorang kyai (pendidik) yang mengajar dan mendidik para santri (anak didik) dengan sarana masjid yang digunakan untuk menyelenggarakan pendidikan tersebut serta di dukung adanya pondok sebagai tempat tinggal para santri. ( Poerwardaminta,1984:735) Perkembangan globalisasi perlu dipersiapkan secara keilmuan mendalam kelembagaan pendidikan pondok pesantren pada umumnya. Pesantren merupakan bentuk lembaga pendidikan Agama yang spesifik di Indonesia. Semula pondok pesantren lebih dikenal sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional, yakni sebuah sarana Dakwah yang menyosialisasikan Islam yang bersifat damai dan sopan kepada masyarakat sehingga Islam di Nusantara dapat diterima oleh semua golongan bahkan orang non muslim di berbagai tempat.(Ziemek,1986:7) Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang menempatkan sosok kiai sebagai tokoh sentral dan masjid sebagai pusat lembaganya. Pesantren merupakan institusi pendidikan Islam tertua di Indonesia dan sekaligus bagian dari warisan budaya bangsa (indigenous culture). Maka, bukanlah kebetulan jika pesantren masih dapat bertahan hingga saat ini. Secara historis pondok pesantren telah ada di Nusantara sejak 300 ± 400 tahun dan telah menjangkau hampir seluruh lapisan masyarakat muslim Indonesia sampai sekarang. Keberadaanya juga memiliki peranan sebagai salah satu benteng perlawanan terhadap kolonialisme, terorisme, feodalisme dan paham yang beraliran keras yang ada di NKRI. (Raharjo,1995:87) Fungsi pesantren menjadi penyumbang pemikiran konstruktif dalam pembangunan revolusi mental bangsa serta memberikan peluang yang untuk mentransformasikan dan mempribumisasi nilai-nilai Islam yang universal yang rahmatan lil alamiin ke dalam aktualisasi kehidupan nyata di Nusantara. Pesantren memiliki peran yang multidimensional; pendidikan, keagamaan mempribumisasi nilainilai Islam, pengembangan, penyadaran dan penguatan civil society. Menyelesaikan persoalan-persoalan sosial kemasyarakatan dengan perspektif Islam yang toleran dan Al-Tadzkiyyah: Jurnal Pendidikan Islam, Volume 6, November 2015 P. ISSN: 20869118 37 bebas intimidasi. Pesantren menjadikan dirinya sebagai lembaga pendidikan yang berbasis komunitas lokal dengan kualitas global/internasional.(Zarkasyi,1998:101-171) Dalam prinsip Islam Nusantara bisa menjadi sarana muslim lokal untuk berdakwah secara kaffah. Sebab, syariat yang diterapkan dalam Islam Nusantara bersifat luwes dan mengalir sesuai konteks masyarakat. Dalam konteks itu Islam bisa mengikuti adat budaya lokal, namun bukan mengganti doktrinnya. Inilah yang menjadi sumbangan penting untuk kedaulatan NKRI. 2. Visi Misi Pondok Pesantren Dengan menyandarkan diri kepada Allah, para kyai , memulai pendidikan pesantrenya dengan modal niat ikhlas dakwah untuk menegakkan kalimat-Nya, didukung dengan sarana prasarana sederhana dan terbatas. Inilah ciri pesantren, tidak tergantung kepada sponsor dalam melaksanakan visi dan misinya. Memang sering kita jumpai dalam jumlah kecil pesantren tradisional dengan sarana prasarana yang megah, namun para kyai dan santrinya tetap mencerminkan prilaku-prilaku sederhana kesederhanaan. Akan tetapi sebagian besar pesantren tradisional tampil dengan sarana dan prasarana sederhana. Keterbatasan sarana dan prasarana ini, ternyata tidak menyurutkan para kyai dan santrinya untuk melaksanakan program-program pesantren yang telah dicanangkan. Mereka seakan sepakat bahwa pesantren adalah tempat untuk melatih (Riyadhoh) dengan penuh keprihatinan. Releven dengan jiwa kesederhanaan diatas, maka tujuan pendidikan pesantren adalah¥0HQFLSWDNDQGDQPHQJHPEDQJkan kepribadian muslim, yaitu kepribadian yang beriman dan bertaqwa kepada Allah, berakhlak mulia, bermanfaat bagi masyarakat, sebagai pelayan masyarakat, mandiri, bebas dan teguh dalam kepribadian, menyebarkan agama atau menegakkan agama islam dan kejayaan umat islam ditengah-tengah masyarakat (Izzul Islam Wal Muslimin), dan mencintai ilmu dalam rangka PHQJHPEDQJNDQNHSULEDGLDQ,QGRVHVLD¥ Setidaknya ada dua belas prinsip yang melekat pada pendidikan pesantren yaitu : a. Teosentrik b. Ikhlas dalam pegabdian c. Kearifan d. Kesederhanaan (bukan berarti miskin) e. .ROHNWLILWDV EDUDNDWXO-DPD¶DK f. Mengatur kegiatan bersama g. Kebebasan terpimpin Al-Tadzkiyyah: Jurnal Pendidikan Islam, Volume 6, November 2015 P. ISSN: 20869118 38 h. Kemandirian i. Tempat menuntut ilmu dan mengabdi (WKDODQXOµLOPL/LOµLEDGDK j. Mengamalkan ajaran agama k. Belajar dipesantren untuk mencari sertifikat/ijazah saja l. Kepatuhan terhadap kyai 3. Elemen-elemen Pondok Pesantren Pesantren adalah sebuah kehidupan unik seperti gambaran lahiriyahnya. Pesantren adalah sebuah komplek dengan lokasi yang umumnya terpisah dari kehidupan sekitar, dalam kelompok itu terdiri dari beberapa bangunan, surau atau masjid, tempat pengajian dan tempat tinggal santri. Hampir dapat dipastikan, lahirnya suatu pesantren berawal dari beberapa elemen dasar yang selalu ada didalamnya. Unsur-unsur system pendidikan pesantren dapat dikelompokkan sebagai berikut : a. Aktor atau pelaku : Ustadz, santri dan pengurus b. Sarana dan prasarana : Masjid, rumah kyai, asrama ustadz, pondok atau asrama santri, gedung sekolah atau madrasah, tanah untuk olah raga, pertanian atau perternakan, empang, makam dan lain sebagainya. c. Sarana perangkat lunak : tujuan kurikulum, kitab, penilaian tata tertib, perpustakaan, pusat dokumentasi atau penerangan, cara pengajaran (sorogan dan bandingan) dan alat-alat pendidikan lainnya.(Mastuhu,1994:58) Sistem pendidikan pesantren harus meliputi infrastruktur maupun suprastruktur penunjang. Infrastruktur dapat meliputi perangkat lunak (software), seperti kurikulum, metode pembelajaran dan perangkat keras ( hardwere), seperti bangunan pondok, masjid sarana prasarana belajar (laboratorium computer, lab bahasa, perpustakaan, dan tempat praktikum lainya). Sedangkan suprastruktur pesantren meliputi : yayasan, kyai, santri, Ustadz, pengasuh dan para pembantu kyai dan ustadz.(Muhamad,1995:299) Ada beberapa ciri yang secara umum dimiliki oleh Pondok Pesantren sebagai lembaga pendidikan sekaligus sebagai lembaga sosial yang secara informal itu terlibat dalam pengembangan masyarakat pada umumnya. Pondok Pesantren bukan hanya terbatas dengan kegiatan-kegiatan pendidikan keagamaan melainkan mengembangkan diri menjadi suatu lembaga pengembangan masyarakat.(Ghazali,2001:13) Al-Tadzkiyyah: Jurnal Pendidikan Islam, Volume 6, November 2015 P. ISSN: 20869118 39 Sebuah lembaga pendidikan dapat disebut Pondok Pesantren apabila dialamnya terdapat lima unsur, yaitu : a. Kyai b. Santri c. Pengajian d. Asrama, dan e. Masjid sdan segala aktifitas pendidikan keagamaan dan kemasyarakatan Persamaan lain yang terdapat dalam Pondok Pesantren adalah bahwa semua Pondok Pesantren melaksanakan tiga fungsi kegiatan yang dikenal denagn tridarma Pondok Pesantren, yaitu : a. Hubungan yang dekat antara kyai dan santri b. Ketaatan santri yang tinggi kepada kyai c. Hidup hemat dan sederhana d. Tingginya semangat kemandirian para santri e. Berkembangnya suasana persaudaraan dan tolong menolong tertanamnya sikap istiqomah. 4. Konsep Islam Nusantara Istilah Islam nusantra memiliki kesamaan dengan gagasan Pribumisasi Islam yang di lahirkan oleh mantan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur di masa hidupnya. Hanya berbeda dari segi penamaan Istilahnya, secara konsep masih sama dengan pribumisasi Islam. Sesungguhnya Islam nusantara identik dengan Islam Indonesia. Bukannya Islam di tempat lain tidak seperti ini, akan tetapi sebagai konsep sosiologis, Islam nusantara memang dicetuskan oleh para tokoh Islam Indonesia yang memang menghendaki agar Islam memiliki peran sebagai Agama yang di dalam praksisnya bisa menjadi wajah Islam yang menyeluruh khas NU. Islam secara tekstual memang menghendaki agar para pemeluknya menerapkan kehidupan yang toleran dan bebas intimidasi. Kemudian teks tersebut mengejawantah di dalam kehidupan yang selaras, serasi dan seimbang dan juga mengedepankan kerukunan, keharmonisan dan keselamatan.(Amarudin,2008:43) Sebagai agama yang mengusung keramahan dan kerahmatan bagi semua, bisa mengikuti adat budaya lokal, namun bukan mengganti doktrinnya, maka tantangannya juga tidak sedikit. Dua di antara tantangan yang utama adalah liberalisme dan Al-Tadzkiyyah: Jurnal Pendidikan Islam, Volume 6, November 2015 P. ISSN: 20869118 40 radikalisme. Jika tidak dilakukan antisipasi terhadap keduanya, maka dikhawatirkan bahwa ke depan akan terjadi kekerasan demi kekerasan atas nama agama.(Munawar,2005:67) Liberalisme dan radikalisme merupakan dua wajah yang sangat berbeda dengan corak ideologis yang berbeda pula. Keduanya adalah ideologi cangkokan dengan nalar yang sangat bertolak belakang. Liberalisme bersumber dari pemikiran barat yang positivistik materialistik, sedangkan radikalisme adalah anti tesis liberalisme, yang bersumber dari ajaran agama-agama yang bercorak ekstrim. Keduanya terdapat proses saling merespon. Adakalanya liberalisne adalah respon terhadap radikalisme dan ada kalanya radikalisme adalah respon tethadap liberalisme yang terus berkembang. Dalam kasus liberalisme di Indonesia, maka ia lahir karena semakin menguatnya gerakan radikalisme yang sudah merambah kekuasaan. Makanya kemudian muncullah gerakan liberalisme yang dalam banyak hal diikuti oleh anak-anak muda. Liberalisme memang di dalam kenyataannya lebih berkonsentrasi kepada pemikiran atau menjadi gerakan pemikiran. Mereka bergerak di dalam wacana-wacana tentang pembaharuan pemikiran keislaman. Mereka ingin menyajikan tafsiran baru tentang ajaran agamanya. Sayangnya bahwa tafsirannya yang jauh dari makna teks dan cenderung menggunakan logika dari pada metodologi tafsir para ulama terdahulu, maka kemudian dianggap menyimpang. Gerakan liberalisme bukanlah gerakan ideologi akan tetapi hanyalah sebuah metodologi berpikir yang tidak lazim dan nyentrik untuk mengaduk-aduk kemapanan tafsiran agama yang selama ini sudah dianggap mapan. Di sisi lain yang lebih mengkhawatirkan adalah gerakan radikalisme, sebab gerakan ini mengandung prinsip ideologis yang harus diperjuangkannya. Prinsip ideologis tersebut adalah terbentuknya negara agama atau negara Islam. Meskipun bajunya bermacam-macam, akan tetapi tetap saja targetnya adalah berdirinya dawlah Islamiyah. Jika dibandingkan dengan gerakan liberalisme agama, maka tantangan kaum radikal tentu jauh lebih kuat sebab secara kenyataan bahwa ada idieologi negara yang diperjuangkannya. Dengan demikian, dari sisi kenegaraan, maka ideologi radikal jauh lebih membahayakan posisi NKRI. Agar ke depan kita ingin kejayaan Indonesia terlaksana, maka mau tidak mau harus melakukan pemetaan secara mendasar tentang Al-Tadzkiyyah: Jurnal Pendidikan Islam, Volume 6, November 2015 P. ISSN: 20869118 41 tantangan Indonesia dan Islam moderatnya ini. Oleh karena itu keterlibatan seluruh komponen bangsa untuk menjaga komitmen tentang NKRI harus tetap dikedepankan. Gagasan tentang Islam nusantara kembali memperoleh momentum untuk dibicarakan oleh Direktorat Pendidikan Agama Islam pada Sekolah Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama dalaP WHPD ³3HQXOLVDQ ,VODP 1XVDQWDUD Perbincangan tentang Islam nusantara tentu saja merupakan tema yang sudah sangat hangat untuk diperbincangkan, namun ketika dikaji ternyata memiliki sejumlah cakupan yang luas. Islam nusantara memang konsep yang sangat abstrak seolah-olah berbeda GHQJDQ ,VODP UDKPDWDQ OLO µDODPLQ SDGDKDO VHFDUD VXEWDQVL PHPLOLNL NHVDPDDQ \DQJ mendasar, berangkat dari teks ayat: ß™©°® | ⁄‹°-Q õ\»⁄ °L < RW+’S\q ÄYØ |^õR<⁄ \y×qU W%XT Artinya Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.(Q.S Al-Anbiya :107) Islam sebagaimana teksnya memang untuk kerahmatan bagi seluruh alam, bukan hanya keselamatan bagi manusia tetapi juga untuk alam lainnya. Yang diselamatkan adalah hablum minallah, hablum minan nas dan juga hablum minal alam. Keselamatan manusia tidak ada artinya jika alam tidak dalam keselamatan. Makanya Islam yang menyelamatkan adalah Islam yang memberikan keselamatan bagi semuanya. Konsep Islam nusantara dimunculkan sebagai sumbangan penting untuk kedaulatan NKRI karena kecenderungan akhir-akhir ini tentang fenomena radikalisme yang semakin menguat. Serta banyaknya konflik yang terjadi, terutama di kawasan Timur Tengah, menurut Centre for Religious Freedom, sebuah lembaga yang menekuni bidang kebebasan beragama di Amerika Serikat, mengeluarkan hasil penelitian tentang kurikulum dan buku-buku yang diajarkan di sekolah-sekolah di Negara-negara Timur tengah. Salah satu temuan penting penelitian itu adalah bahwa kurikulum dan bukubuku Islam yang diajarkan sekolah-sekolah di Timur tengah penuh dengan kebencian dan permusuhan terhadap agama Yahudi, Kristen, dan kaum Muslim yang tak sepaham dengan ajaran yang di anut oleh penguasa. Akan tetapi, Cynthia P. Schneider, Guru Besar Luar Biasa dalam Praktik Diplomasi Georgetown University dan Peneliti Lepas di Brookings Institution tentang Suara Moderat Dunia Arab, dinyatakan bahwa di dunia Al-Tadzkiyyah: Jurnal Pendidikan Islam, Volume 6, November 2015 P. ISSN: 20869118 42 Arab sebenarnya sedang terjadi usaha-usaha dari penulis-penulis di sana tentang bagaimana mendorong toleransi, Islam yang terbuka dan moderat. Hanya sayangnya bahwa tulisan tersebut tidak bisa diakses oleh orang Arab sebab tulisan-tulisan tersebut tidak didapati di toko di Mesir melalui cerita tentang orang-orang kecil. Diceritakan juga bahwa Polisi di dunia Timur Tengah sangat keras menghadapi buku-buku yang dianggap berhaluan moderat atau toleran. Buku-buku yang diperbolehkan beredar hanyalah buku-buku yang sesuai dengan mainstream pemikiran keagamaan yang ada di sana. Sehingga polisi Mesir melakukan razia di toko-toko buku untuk memastikan bahwa Buku The Modern Sheikh and the Industry of Religious Extremism¥ \DQJ EHULVL WHQWDQJ SHQWLQJQ\D SHPHULQWDK untuk memainkan peran otoritatif terhadap isu lingkungan, korupsi, gender atau hak-hak perempuan tidak dipasarkan di dalamnya.(Nashi,2012) Situasi seperti ini juga didapati di Indonesia akhir-akhir ini, misalnya banyak pemuda yang bergabung pada ISIS, juga sweeping terhadap karaoke, bar dan sebagainya. Bahkan juga pembakaran terhadap masjid Ahmadiyah, pengusiran warga Ahmadiyah, pengusiran kaum minoritas di sampang dan sebagainya. Atas nama agama mereka melakukan tindakan anarkhis yang bisa membahayakan kesatuan dan persatuan bangsa. Di tengah gerakan Islam keras, seperti ini, maka langkah untuk melakukan kajian yang mengedepankan ajaran Islam yang toleran dan bebas intimidasi menjadi sangat strategis. Oleh karena itu, peran pondok pesantren diharapkan akan menghasilkan lulusan yang memiliki wawasan keagamaan yang komprehensif dan lapang dalam mengembangkan kultur Islam Nusantara. Santri dihasilkan oleh pondok pesantren adalah manusia yang mengembangkan pola hubungan antar manusia dengan kultur Islam yang: Pluralis, Humanis, Dialogis dan Toleran serta mengembangkan pemanfaatan dan pengelolaan alam dengan rasa cinta kasih. Pluralis dalam arti memiliki relasi tanpa memandang suku, bangsa, agama, ras ataupun titik lainnya yang membedakan antara satu orang dengan orang lain. Humanis dalam arti menjunjung tinggi hak asasi manusia dan menghargai manusia sebagai manusia. Dialogis dalam arti semua persolan yang muncul sebagai akibat interaksi Al-Tadzkiyyah: Jurnal Pendidikan Islam, Volume 6, November 2015 P. ISSN: 20869118 43 sosial didiskusikan secara baik dan akomodatif terhadap beragam pemikiran.(Rahardjo,1999:267) Dan toleran dalam arti memberi kesempatan kepada yang lain untuk melakukan sebagaimana yang diyakininya, dengan penuh rasa damai. Dengan demikian, yang dikembangkan oleh pondok pesantren ke depan adalah bangunan Islam Nusantara yang berwajah menyelamatkan relasi antar manusia dan relasi antar manusia dengan alam, sebagai perwujudan Islam bersifat luwes dan mengalir sesuai konteks masyarakat. Sehingga menjadi manusia yang berilmu dan beragama serta memiliki nilai sosial. Sebagaimana yang terkandung dalam firman Allah SWT sebagai berikut : r\-õW*XjŸXT rQ×m£ Ÿ s™kØXT ; =õ_Å’OØ ©¤ŸœWØöXSŸØXT > ãŸk[â û°OØ SÅØn’ì…# ÅYXT ã  T¿i»’ÃXT W%XT ©#kØ ÇÅ ©¤Ÿ”XT ™  =\HŸØ ™ °OÉ °XT ™ ƒ<£HŸ ÆqSIŸXT rQ×m£ Ÿ s°l ÆqSIŸXT ©¤‹¶õ_Å\-ŸXT ߨخ òqSƒbVŸ < YW)Ÿc…& WDÅ CW% p °VÅf ÅY ã  â DØ  ×1Ń=õ\-ÿcU ’0VQ W% Artinya Dan Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersatukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, Ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri. (Q.S An-Nisa : 36) (DEPAK,2000:267). Keberadaan pesantren di Nusantara khususnya kemunculannya di Jawa tidak dapat dipisahkan dari pengaruh Walisongo abad 15-16. Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang unik Indonesia. Walisongo adalah tokoh tokoh penyebar Islam di Jawa abad 15-16 yang telah berhasil mengkombinasikan aspek-aspek sekuler dan spiritual dalam memperkenalkan Islam pesantren di Indonesia ini dalam mengembangkan pendidikan kepesantrenannya berkiblat pada walisongo.(Mutahar,2013:180) Pesantren merupakan sarana wali songo untuk berdakwah.Serta menjadikan syariat yang diterapkan dalam di Nusantara bersifat luwes dan mengalir sesuai konteks masyarakat tanpa membuat konflik yang bersifat damai dan sopan kepada masyarakat sehingga Islam mudah diterima oleh berbagai etnis, suku ras bahkan agama lain, dari dulu sekarang sesuai dengan Konsep Islam Nusantara. Al-Tadzkiyyah: Jurnal Pendidikan Islam, Volume 6, November 2015 P. ISSN: 20869118 44 Pesantren dapat melakukan percepatan pembangunan kualitas sumberdaya manusia tanpa kehilangan nilai- nilai spiritualitasnya. Keunggulan pesantren terletak pada perinsip memanusiakan manusia dalam proses pembelajaranya dan menggabungkan tri pusat pendidikan (keluarga, sekolah dan masyarakat) dalam lingkunganya agar dapat mencetak para santri yang memiliki karakter kuat baik sisi keilmuan agama umum maupun prilaku sehari-hari.(Dacholfany,2014:8) Pembangunan kualitas pendidikan pondok pesantren merupakan kebutuhan bagi masyarakat dengan tiga alasan mendasar yaitu: (1) pendidikan melibatkan sosok manusia yang senantiasa dinamis, (2) Inovasi pendidikan akibat perkembangan sains dan teknologi dan (3) tuntutan globalisasi yang meleburkan sekat-sekat agama,budaya bahkan falsafat bangsa.(Langgulung,2002:76) Semangat ini selaras dengan firman Allah pada Q.S An-Nahl, 30 yaitu : Xkÿ5 r i ÆP™kõ\F rؤ Sƒ=_Å’OU | ⁄œ° ä °L   < n×m\\ SÅV  ×1Å{ Xq W$Ws5U VlW% ×SV â " W¤œ° ä ° Å#j°XT ߨ©® W¤‹™ é *¿-Ÿ Ãq\j ]1ÿ»°=VXT  ¸ n×m\\ ÆQWm¶\)[ ÃqWVXT  ¸ RX=_Å\O Artinya Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: "Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?" mereka menjawab: "(Allah telah menurunkan) kebaikan". orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan Sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan Itulah Sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa,( Q.S An-Nahl: 30) 5. Tinjauan Tentang Pondok Pesantren Pelaksanaan pendidikan di Indonesia merupakan tanggung jawab seluruh komponen bangsa Indonesia. Dalam prakteknya, masyarakat ikut terlibat dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa ini, tidak hanya dari segi materi dan moril, namun ikut serta memberikan sumbangsih yang signifikan dalam penyelenggaraan pendidikan. Dalam hal ini dengan munculnya berbagai lembaga atau keguruan swasta yang merupakan bentuk dari penyelenggaraan pendidikan masyarakat. Perguruan atau lembaga swasta itu dapat berbentuk jalur pendidikan sekolah atau jalur pendidikan luar sekolah, sebagaimana disebutkan dalam undang-undang RI No.20 Th. 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.(DEPAK,2003:1) Al-Tadzkiyyah: Jurnal Pendidikan Islam, Volume 6, November 2015 P. ISSN: 20869118 45 Pondok pesantren dan masyarakat merupakan dua sisi yang tidak dapat dipisahkan, karena keduanya saling mempengaruhi. Sebagian besar pesantren berkembang dari adanya dukungan masyarakat, secara sederhana muncul dan berdirinya pesantren merupakan inisiatif masyarkat baik secara individu maupun kolektif. Begitu pula sebaliknya perubahan social dalam masyarakat merupakan dinamika kegiatan dinamika dalam pondok pesantren dalam pendidikan dan masyarakat. Dengan demikian pondok pesantren berubah tampil sebagai lembaga pendidikan yang bergerak dibidang pendidikan dan sosial. Bahkan lebih jauh dari pada itu pesantren menjadi konsep pendidikan sosial masyarakat muslim di kota dan di pedesaan. C. Kesimpulan Istilah Islam nusantra memiliki kesamaan dengan gagasan Pribumisasi Islam yang di lahirkan oleh mantan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur di masa hidupnya. Hanya berbeda dari segi penamaan Istilahnya, secara konsep masih sama dengan pribumisasi Islam. Sesungguhnya Islam nusantara identik dengan Islam Indonesia. Bukannya Islam di tempat lain tidak seperti ini, akan tetapi sebagai konsep sosiologis, Islam nusantara memang dicetuskan oleh para tokoh Islam Indonesia yang memang menghendaki agar Islam memiliki peran sebagai Agama yang di dalam praksisnya bisa menjadi wajah Islam yang menyeluruh. Islam secara tekstual memang menghendaki agar para pemeluknya menerapkan kehidupan yang toleran dan bebas intimidasi. Sebagai agama yang mengusung keramahan dan kerahmatan bagi semua, bisa mengikuti adat budaya lokal, namun bukan mengganti doktrinnya, maka tantangannya juga tidak sedikit. Dua di antara tantangan yang utama adalah liberalisme dan radikalisme. Al-Tadzkiyyah: Jurnal Pendidikan Islam, Volume 6, November 2015 P. ISSN: 20869118 46 DAFTAR PUSTAKA $EGXOODK1DVKLKµ8OZDQ   Tarbiayatul Aulad Fil Islam. Solo: Insan Kamil. Adi Sasono, Didin Hafiduddin, AM. Saefuddin, dkk. 1998. Solusi Islam atas Problematika Umat. Jakarta; Gema Insani Pers. Ahmad Mutahar, Nurul Anam. (2013). Manifesto Moderenisasi Pendidikan Islam & Pesantren .Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Amirudin, dkk. (2008). Pendidikan Aswaja dan Ke-Nu-an. Lampung :LPM NU. Dawam Raharjo.(1994). Pesantren dan Pembaharuan. Jakarta; LP3ES. Departemen Agama. (2000). Al-4XU¶an dan Terjemahanya. Jakarta. Hasan langgulung. (2002). Asa-Asas Pendidikan Islam. Jakarta : Al-Husna. Lampung Post. (2014). Pendidikan Pesantren bangun Karakter. Rabu 18 juni 2014 M. Dawan Rahardjo. (1999). Pesantren dan Pembaharuan. Jakarta: LP3ES. M. Ihsan Dacholfany. (2014). Pendidikan Karakter Belajar Ala Pesantren Gontor Depok; Wafimediatama. Manfred Ziemek. (1986). Pesantren dalam Perubahan Sosial. Jakarta; P3M. Mohammad Fakry Gaffar. (2009). Internasionalisasi Program Pendidikan Guru dalam Hukum Manajemen Corporate dan Strategi pemasaran Jasa Pendidikan. Jakarta; Alfabeta Bandung. Nana Sukmadinata. (2005). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Rosda. Ridlwan Nasir. (2005). Mencari Tipologi Format Pendidikan Ideal Pondok Pesantren di Tengah Arus Perubahan. Yogyakarta; Pustaka Pelajar. Said Agil Husin Al Munawar. (2005). Aktualisasi Nilai-QLODL 4XU¶DQL GDODP 6LVWHP Pendidikan Islam. Jakarta: Ciputat Press. Satori. (2009). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

Selasa, 22 November 2022

Sejarah Masuknya Islam di Indonesia

 

Sejarah Masuknya Islam Di Indonesia

Di Indonesia terkenal dengan  penduduknya yang mayoritas memeluk agama islam, budaya nya, alamnya yang luas dan hasil bumi yang cukup banyak.

Sejarah masuknya islam awalnya di bawa oleh pedagang Gujarat lalu di ikuti oleh pedagang arab dan Persia.  Sambil berdagang mereka menyebarkan agama islam ke tempat mereka berlabuh di seluruh indonesia.

Banyak yang berspekulasi jika islam masuk ke indonesia di abad ke 7 atau 8, karena pada abad tersebut terdapat perkampungan islam di sekitar selat Malaka.

Selain pedagang ada juga dengan cara mendakwah, seperti penyebaran di tanah jawa yang di lakukan oleh para walisongo.  Mereka lah sang pendakwah dan sang ulama yang menyebarkan islam dengan cara pendekatan sosial budaya.

Di jawa islam masuk melalui pesisir utara pulau jawa dengan  di temukannya makam Fatimah binti Maimun bin Hibatullah. Di Mojokerto juga telah di temukannya ratusan makam islam kuno.  Di perkikan makam ini adalah makam para keluarga istana Majapahit.

Di kalimantan, islam masuk melalui pontianak pada abad 18.  Di hulu sungai Pawan, kalimantan barat di temukan pemakaman islam kuno.  Di kalimantan timur islam masuk melalui kerajaan Kutai, di kalimantan selatan melalui kerajaan banjar, dan dari kalimantan tengah di temukannya masjid gede di kota Waringin yang di bangun pada tahun 1434 M. Di sulawesi islam masuk melalui raja dan masyarakat Gowa-Tallo.

Demikian sedikit penjelasan tentang sejarah islam masuk ke indonesia.  Kita harus bangga dengan para ulama yang telah menyebarkan agama islam di indonesia tanpa adanya perang.  Dengan peran para ulama yang bijaksana, agama islam dengan mudah di terima di seluruh nusantara.

Wali Songo

 Nama-Nama Asli Wali Songo: Strategi Dakwah & Wilayah Persebarannya Masjid Agung Demak, Bintoro, Demak, Jawa Tengah, Minggu (20/5). Masjid ini dipercayai pernah menjadi tempat berkumpulnya para ulama (wali) yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa yang disebut dengan Wali Songo. ANTARA FOTO/Aji Styawan Kontributor: Abdul Hadi, tirto.id - 19 Jul 2022 10:05 WIB Dibaca Normal 3 menit Berikut adalah nama-nama asli Wali Songo, strategi Dakwah dan wilayah persebarannya mulai dari Sunan Kalijaga hingga Sunan Gunung Jati. tirto.id - Pada abad ke-14 di wilayah Jawa, dikenal sembilan penyebar agama Islam yang kondang dengan sebutan Wali Songo. Sembilan wali itu tinggal di beberapa daerah penting di sekitar pantai utara Jawa. Strategi dakwah yang digunakan Wali Songo amat bervariasi, tergantung wilayah dan kondisi masyarakatnya. Sebagian besar dari para penyebar Islam ini beradaptasi dengan luwes agar penyampaian Islamnya diterima masyarakat. Penamaan Wali Songo sering kali dilekatkan dengan wilayah dakwahnya. Akibatnya, sebagian besar masyarakat tidak mengenal nama asli dari masing-masing wali. Nama-nama Wali Songo Berikut adalah sembilan tokoh Wali Songo, nama asli, strategi, dan wilayah persebaran dakwahnya, sebagaimana dituliskan Agus Sunyoto di buku Atlas Wali Songo (2016): 1. Sunan Gresik Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim dianggap sebagai orang pertama yang menyebarkan Islam di Jawa. Ia pertama kali datang ke desa Sembolo, sekarang Desa Laren di kecamatan Manyar, 9 kilometer utara kota Gresik. Strategi dakwahnya dimulai dari perdagangan, yang dilanjutkan dengan pendekatan politik. Sunan Gresik kemudian menjalin hubungan dengan penguasa saat itu. Sunan Grasik juga mendirikan pesantren dan masjid untuk menyebarkan Islam. Keberadaan Sunan Gresik ini menjadi kontroversi. Selama ini, ada perbedaan antara pandangan masyarakat dan fakta sejarah. Sebagaimana dilansir dari NU Online, keberadaan Sunan Gresik tidak diakui secara akademis, namun tetap berkembang sebagai kepercayaan masyarakat. 2. Sunan Ampel Nama asli Sunan Ampel ialah Raden Rahmat. Sunan Ampel lahir pada tahun 1401. Wilayah dakwahnya berada di sekitar Surabaya. Ia juga memiliki pesantren Ampeldenta yang terletak di daerah Denta, Surabaya. Strategi dakwahnya yang terkenal adalah dengan mendidik para dai atau juru dakwah. Kemudian, ia menikahkan banyak juru dakwah dengan putra-putri penguasa bawahan Majapahit. 3. Sunan Kudus Sunan Kudus bernama asli Ja'far Shadiq, ia lahir pada tahun 1400. Wilayah dakwahnya adalah di Kudus, Jawa Tengah. Sunan Kudus terkenal tegas dalam menegakkan ajaran syariat Islam. Di masanya, ia dikenal sebagai eksekutor Ki Ageng Pengging dan Syaikh Siti Jenar. Strategi dakwah yang digunakan Sunan Kudus untuk menyebarkan Islam adalah dengan mendekati masyarakat melalui kebutuhan mereka. Ia mengajarkan alat-alat pertukangan, kerajinan emas, membuat keris pusaka, dan lain sebagainya. 4. Sunan Giri Sunan Giri bernama asli Muhammad Ainul Yakin, ia lahir pada tahun 1442. Orang tuanya adalah Syaikh Maulana Ishaq bersama Dewi Sekardadu, putri Menak Sembuyu yang merupakan seorang penguasa wilayah Balambangan di ujung kerajaan Majapahit. Sunan Giri adalah salah seorang ulama Wali Songo, majelis penyebar dakwah Islam pertama di Jawa dalam sejarah Indonesia atau Nusantara, pada abad ke-14 Masehi seiring munculnya Kesultanan Demak dan menjelang runtuhnya Kerajaan Majapahit. Sunan Giri dikenal sebagai raja sekaligus guru suci. Ia berperan penting dalam pengembangan dakwah di Nusantara. Strategi dakwahnya yang terkenal adalah dengan memanfaatkan kekuasaan, perniagaan, dan pendidikan. Dengan cara dakwah tersebut, pengaruh Sunan Giri mencapai wilayah Banjar, Martapura, Pasir, Kutai, hingga Nusa Tenggara dan Maluku. Baca juga: Sejarah Runtuhnya Kesultanan Mataram Islam & Daftar Raja-raja 5. Sunan Gunung Jati Sunan Gunung Jati mempunyai sebuah nama asli Syarif Hidayatullah. Ia lahir pada tahun 1448 di Kairo, Mesir. Di Mesir, ia adalah putra Sultan Hud dan pernah menjadi pangeran untuk penerus raja Mesir, menggantikan ayahnya, tetapi ia menolak dan memutuskan untuk menyebarkan ajaran Islam dengan ibunya di wilayah Jawa. Strategi dakwah yang dilakukan Sunan Gunung Jati adalah dengan menguatkan kedudukan politik. Ia menjalin hubungan dengan tokoh-tokoh berpengaruh di Cirebon, Banten, dan Demak untuk memuluskan dakwahnya. 6. Sunan Kalijaga Sunan Kalijaga atau Raden Said lahir pada tahun 1450 di Tuban. Ayahnya adalah Tumenggung Wilatikta Bupati Tuban. Sunan Kalijaga adalah salah satu ulama Wali Songo yang dikenal paling luas pengaruh dan cakupan dakwahnya di tanah Jawa. Sejarah hidup Sunan Kalijaga tidak semulus yang dibayangkan. Sebelum menjadi pendakwah, ia adalah bromocorah alias penjahat. Riwayat kehidupan Sunan Kalijaga melintas-batas era kerajaan di Jawa yang silih-berganti. Ia menyaksikan perubahan sejak masa akhir Kerajaan Majapahit, lalu Kesultanan Demak, Kesultanan Pajang, hingga awal Kesultanan Mataram Islam. Strategi dakwah Sunan Kalijaga amat terkenal melalui seni dan budaya. Ia piawai mendalang, menciptakan bentuk-bentuk wayang, dan lakon-lakon carangan. Dakwah Raden Said dimulai di Cirebon, di Desa Kalijaga, untuk mengislamkan penduduk Indramayu dan Pamanukan. Karena basis dakwahnya di Desa Kalijaga, Raden Said kemudian dikenal dengan julukan Sunan Kalijaga. Sebagaimana Wali Songo yang lain, Sunan Kalijaga berdakwah dengan pendekatan seni dan budaya. Ia amat mahir mendalang dan menggelar pertunjukan wayang. Sebagai dalang, ia dikenal dengan julukan Ki Dalang Sida Brangti, Ki Dalang Bengkok, Ki Dalang Kumendung, atau Ki Unehan. Berbeda dengan pertunjukan wayang lainnya, Sunan Kalijaga tidak mematok tarif bagi yang ingin menyaksikan pertunjukan beliau, melainkan cukup dengan menyebut Kalimosodo atau dua kalimat syahadat sebagai tiket masuknya. Dengan begitu, orang-orang yang menyaksikan pertunjukan wayang Sunan Kalijaga sudah masuk Islam. Berkat kelihaian Sunan Kalijaga berbaur, lambat laun masyarakat setempat mengenal Islam pelan-pelan dan mulai menjalankan syariat Islam. 7. Sunan Muria Sebagai putra Sunan Kalijaga, Sunan Muria yang bernama asli Raden Umar Said atau Raden Said mewarisi darah seni ayahnya. Ia lahir pada tahun 1450 dan dianggap sebagai sunan termuda di antara para Wali Songo lainnya. Dalam menyebarkan Islam, Sunan Muria melestarikan seni gamelan dan boneka sebagai sarana dakwah. Dia menciptakan beberapa lagu dan tembang untuk mempraktikkan ajaran Islam. 8. Sunan Bonang Sunan Bonang lahir ada tahun 1465 serta nama asli Raden Maulana Makdum Ibrahim. Ia adalah putra Sunan Ampel dengan Nyai Ageng Manila. Julukan Sunan Bonang berasal dari salah nama desa di kabupaten Rembang, yaitu desa Bonang. Sunan Bonang dikenal amat pandai dengan ilmu fikih, ushuluddin, tasawuf, seni, sastra, arsitektur, dan lain sebagainya. Wilayah dakwahnya adalah daerah Kediri. Di sana, Ia mengajarkan Islam melalui wayang, tembang, dan sastra sufistik. Karya sastra terkenal yang digubah Sunan Bonang adalah Suluk Wujil. 9. Sunan Drajat Sunan Drajat memiliki nama asli Raden Qasim atau Syarifuddin. Ia lahir pada tahun 1470 dan merupakan putra bungsu Sunan Ampel dengan Nyai Ageng Manila. Wilayah dakwahnya berada di Paciran, Lamongan. Strategi dakwahnya terkenal dengan pendidikan akhlak kepada masyarakat. Di Paciran, Sunan Drajat mendidik masyarakat untuk memperhatikan kaum fakir miskin. Ia menjunjung tinggi kesejahteraan umat. Selain itu, Sunan Drajat juga dikenal dengan pengajaran teknik membuat rumah dan tandu.


Baca selengkapnya di artikel "Nama-Nama Asli Wali Songo: Strategi Dakwah & Wilayah Persebarannya", https://tirto.id/garD

Jumat, 18 November 2022

PENYEBARRAN ISLAM DI INDONESIA

 

Sejarah Masuknya Islam di Indonesia dan Perkembangannya

Sejarah

Sejarah Masuknya Islam di Indonesia dan Perkembangannya

Kronologi Masuknya Islam di Indonesia: Dari Pedagang, Bandar-Bandar, dan Peran Wali Songo di Jawa
Written by Fandy

Sejarah Masuknya Islam di Indonesia dan Perkembangannya – Islam merupakan salah satu agama besar di dunia saat ini. Agama ini lahir dan berkembang di Tanah Arab. Pendirinya ialah Muhammad yang lahir tahun 570 M. Agama ini lahir salah satunya sebagai reaksi atas rendahnya moralitas manusia pada saat itu. Manusia pada saat itu hidup dalam keadaan moral yang rendah dan kebodohan (jahiliah).

Islam mulai disiarkan sekitar tahun 612 di Makkah. Dikarenakan penyebaran agama baru ini mendapat tantangan dari lingkungannya, Muhammad kemudian pindah (hijrah) ke Madinah pada 622 M. Dari sinilah Islam berkembang ke seluruh dunia. Sekalipun dakwah Muhammad pada periode Makkah bisa dibilang berat dan gagal secara politis atau paling tidak belum menemukan hasil yang setimpal, tetapi dia telah berhasil menancapkan kekuatan dan tonggak iman kepada sedikit pengikutnya yang kelak menjadi penyebar ajaran-ajaran tauhid, bahkan ekspansi kekuasaan ke berbagai belahan dunia.

Agama ini dapat berkembang dengan cepat karena Islam mengatur hubungan manusia dan Tuhan. Islam disebarluaskan tanpa paksaan kepada setiap orang untuk memeluknya.

Artikel kali ini tidak bermaksud mengkaji Islam secara luas, tetapi lebih menfokuskan kepada pertanyaan-pertanyaan seputar sejarah singkat masuknya Islam ke Indonesia dan peran Wali Songo dalam menyebarkan Islam di Jawa.

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini tentunya diperlukan analisis yang kuat secara sosio-historis agar kesimpangsiuran yang selama ini terus bergejolak paling tidak berkurang dengan munculnya asumsi baru yang didukung analisa dan argumentasi yang kuat.

Sejarah Singkat Masuknya Islam ke Indonesia

Sejauh menyangkut kedatangan Islam di Nusantara, muncul diskusi dan perdebatan panjang di antara para ahli. Biasanya perdebatan mereka berkisar kepada tiga topik, yaitu tempat asal kedatangan Islam, para pembawanya, dan waktu kedatangannya. Dalam hal masuknya Islam ke Indonesia menimbulkan berbagai teori.

Meski terdapat beberapa pendapat mengenai kedatangan agama Islam di Indonesia, banyak ahli sejarah cenderung percaya bahwa masuknya Islam ke Indonesia pada abad ke-7 berdasarkan Berita Tionghoa zaman Dinasti Tang. Berita itu mencatat bahwa pada abad ke-7 terdapat permukiman pedagang muslim dari Arab di Desa Baros, daerah pantai barat Sumatra Utara.

Adapun pendapat yang menyatakan Islam masuk Nusantara pada abad ke-13 Masehi lebih menunjuk pada perkembangan Islam bersamaan dengan tumbuhnya kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia. Pendapat ini berdasarkan catatan perjalanan Marco Polo yang menerangkan bahwa dia pernah singgah di Perlak pada 1292 dan berjumpa dengan orang-orang yang telah menganut agama Islam.

Bukti yang turut memperkuat pendapat ini ialah ditemukannya nisan makam Raja Samudra Pasai, Sultan Malik al-Saleh yang berangka tahun 1297 M. Jika diurutkan dari barat ke timur, Islam pertama kali masuk di Perlak, bagian utara Sumatra. Hal ini menyangkut strategisnya letak Perlak, yaitu di daerah Selat Malaka, jalur laut perdagangan internasional dari barat ke timur, dan berikutnya ialah Kerajaan Samudra Pasai.

Ada baiknya dipaparkan di sini beberapa pendapat tentang awal masuknya Islam di Indonesia.

1. Islam Masuk ke Indonesia Pada Abad ke 7

  1. Seminar masuknya Islam di Indonesia (di Aceh), sebagian dasar adalah catatan perjalanan Al-Mas’udi, yang menyatakan bahwa pada 675 M terdapat utusan dari raja Arab muslim yang berkunjung ke Kalingga. Pada 648 M, diterangkan telah ada koloni Arab muslim di pantai timur Sumatra.
  2. Dari Harry W. Hazard dalam Atlas of Islamic History (1954), diterangkan bahwa kaum muslim masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M yang dilakukan oleh para pedagang muslim yang selalu singgah di Sumatra dalam perjalannya ke Tionghoa.
  3. Dari Gerini dalam Futher India and Indo-Malay Archipelago, di dalamnya menjelaskan bahwa kaum muslim sudah ada di kawasan India, Indonesia, dan Malaya antara tahun 606–699 M.
  4. Sayed Naguib Al Attas dalam Preliminary Statemate on General Theory of Islamization of Malay-Indonesian Archipelago (1969), di dalamnya mengungkapkan bahwa kaum muslim sudah ada di kepulauan Malaya-Indonesia pada 672 M.
  5. Sayed Qodratullah Fatimy dalam Islam comes to Malaysia mengungkapkan bahwa pada 674 M kaum muslim Arab telah masuk ke Malaya.
  6. S. Muhammmad Huseyn Nainar, dalam makalah ceramahnya berjudul Islam di India dan Hubungannya dengan Indonesia menyatakan bahwa beberapa sumber tertulis menerangkan kaum muslim India pada 687 sudah ada hubungan dengan kaum muslim Indonesia.
  7. W.P. Groeneveld dalam Historical Notes on Indonesia and Malaya Compiled from Chinese Sources, menjelaskan bahwa dalam Hikayat Dinasti T’ang memberitahukan adanya Ta Shih (Arab muslim) berkunjung ke Holing (Kalingga, tahun 674 M).
  8. T.W. Arnold dalam buku The Preaching of Islam: A History of The Propagation of the Moslem Faith menjelaskan bahwa Islam datang dari Arab ke Indonesia pada 1 Hijriah (abad 7 M).

2. Islam Masuk ke Indonesia pada Abad ke-11

Satu-satunya sumber ini adalah ditemukannya makam panjang di daerah Leran Manyar, Gresik, yaitu makam Fatimah Binti Maimoon dan rombongannya. Pada makam itu terdapat prasati huruf Arab Riq’ah yang berangka tahun (dimasehikan 1082).

3. Islam Masuk ke Indonesia pada Abad ke-13

  1. Catatan perjalanan Marcopolo menyatakan bahwa dia menjumpai adanya kerajaan Islam Ferlec (mungkin Peureulack) di Aceh pada 1292 M.
  2. K.F.H. van Langen menyebut adanya kerajaan Pase (mungkin Pasai) di Aceh pada 1298 M berdasarkan berita Tiongkok.
  3. J.P. Moquette dalam De Grafsteen te Pase en Grisse Vergeleken Met Dergelijk Monumenten uit Hindoesten menyatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13.
  4. Beberapa sarjana Barat seperti R.A Kern; C. Snouck Hurgronje; dan Schrieke, lebih cenderung menyimpulkan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13 dikarenakan sudah adanya beberapa kerajaaan Islam di kawasan Indonesia.

Namun yang jelas, sebelum pengaruh Islam masuk ke Indonesia, di kawasan ini sudah terdapat kontak-kontak dagang, baik dari Arab, Persia, India dan Tiongkok. Islam secara akomodatif, akulturatif, dan sinkretis merasuk dan mempunyai pengaruh di Arab, Persia, India, dan Tiongkok. Melalui perdagangan itulah Islam masuk ke kawasan Indonesia. Dengan demikian, bangsa Arab, Persia, India, dan Tiongkok punya andil melancarkan perkembangan Islam di kawasan Indonesia.

Islam sendiri masuk di Jawa melalui pesisir utara Pulau Jawa ditandai dengan ditemukannya makam Fatimah binti
Maimun bin Hibatullah yang wafat pada 475 Hijriah atau 1082 M di Desa Leran, Kecamatan Manyar, Gresik. Dilihat dari namanya, diperkirakan Fatimah adalah keturunan Hibatullah, salah satu dinasti di Persia. Selain itu, di Gresik juga ditemukan makam Malik Ibrahim dari Kasyan (satu tempat di Persia) yang meninggal pada 822 H atau 1419 M.

Agak ke pedalaman, di Mojokerto juga ditemukan ratusan kubur Islam kuno. Makam tertua berangka tahun 1374 M. Diperkirakan makam-makam ini ialah makam keluarga istana Majapahit.

Proses Masuk dan Berkembangnya Agama Islam di Indonesia

Sejarah mencatat bahwa kaum pedagang memegang peranan penting dalam persebaran agama dan kebudayaan Islam. Letak Indonesia yang strategis menyebabkan munculnya bandar-bandar perdagangan yang turut membantu mempercepat persebaran tersebut. Selain itu, cara lain yang turut berperan ialah melalui dakwah yang dilakukan para mubaligh (pendakwah).